Showing posts with label pelajaran. Show all posts
Showing posts with label pelajaran. Show all posts

7.11.11

Slice is Very Something


Slice adalah irisan.
Setiap pertemuan yang kemudian aku atau kamu terlibat lebih jauh, akan memunculkan slice. Bagiku, tidak setiap pertemuan menghasilkan slice. Hanya pertemuan yang berlanjut pada interaksi demi interaksi hingga terjadi proses perkenalan yang panjang. Baru muncullah slice. Karenanya sekedar tahu nama, atau tahu wajah semata takkan menghadirkan slice antara aku dengannya.

Slice adalah singgungan.
Aku punya banyak slice dalam hidupku. Setiap pertemuan, yang kemudian intim aku bersinggungan dengan tiap persona, maka di sana ada slice antara aku dan mereka. Aku punya slice dengan teman-temanku, teruntuk lebih yang dekat denganku. Setiap urusanku, pasti ada sangkutan dengan mereka pula. Aku punya slice dengan rekan-rekanku. Mereka yang satu medan juang denganku, tentu ada slice yang istimewa. Aku punya slice dengan para "playgroup"*-ku. Mereka yang membuatku paham akan ini semua. Bahwa inilah alasan Tuhan mencipta manusia dalam beragam suku, etnis, ras, kebudayaan, latar-belakang, bangsa.. semata adalah agar mereka (manusia) saling mengenal satu dengan yang lain.

Ya.. slice adalah saling mengenal.
Karena itu aku bilang, tak cukup kenal nama. Tak cukup tahu wajah saja. Slice hadir ketika aku kenal mereka lebih jauh. That's slice within life. Slice of relation. Aku suka menyebutnya demikian, slice. Seperti roti. Yang yummy ketika emang terbagi cukup untuk semua. Kegembiraan yang muncul, itulah yang membuatnya semakin enak. Begitulah slice.

Slice adalah saling kebermanfaatan.
Manusia terbaik itu adalah ia yang paling bermanfaat bagi yang lain. Ada satu judul anime, Hakuouki Shinsengumi Kitan, yang mengisahkan tentang seorang gadis bernama Chizuru Yukimura. Yang menarik dari karakter ini, dia adalah satu-satunya perempuan di markas kesatuan Shinsengumi. Satu yang aku tangkap dari karakterisasi Chizuru, ia seorang yang ingin bermanfaat bagi Shinsengumi, bagaimanapun kondisinya. Kisahnya benar-benar membuatku terngiang perkataan sang Rosul. Di tiap slice, ada peluang untuk tebar-bagi kemanfaatan. Karena itulah kita ber-slice dengan yang lain.

Semakin banyak slice, semakin membuatku harus membuat putusan dengan lebih bijak. Setidaknya belajar untuk bijaksana. Pernah sekali waktu, aku terpikir untuk pergi. Pergi meninggalkan kota tempat aku tumbuh besar ini. Aku kadang iri. Iri pada mereka, yang (seolah) leluasa pergi keluar kota dalam alasan apapun. Sedangkan aku? Aku terikat oleh masing-masing slice-ku. Seorang kawan berujar padaku, "Kau ini nampaknya tak pernah beri ruang untuk dirimu sendiri. Sekali-kali pikirkanlah tentang awak kau. Pergilah berlibur, barang satu atau dua pekan. Tinggalkan sejenak pikuk di kotamu itu".

Senyum simpul ku berikan padanya. "Tidak semudah itu", jawabku. Ya, karena realitanya tak semudah itu. Aku punya (banyak) slice. Aku perlu berpikir tentang para binaan "playgroup"-ku. Aku perlu memikirkan mereka yang membersamaiku di medan juang. Aku perlu.. Aku butuh.. Aku harus.. ya begitulah kawan. Tak seringan dalam lisan. Tak cukup landai untuk berlari dalam menunai. Karena itu perlu, butuh, dan harus dipikirkan dulu. Aku tak bisa serampangan. Aku tak boleh ceroboh. Aku harus bersiap.

Ketika memang takdir berkata lain. Bahwa kotaku ini harus kutinggal. Maka bersiap lebih awal harus dimulaikan. Aku harus berkomunikasi dengan mereka. Yang mengikatku dalam slice. Menyiapkan "playgroup"ku untuk kutinggal, bicara dengan santai namun santun pada para rekanku di medan juang, dan bicarakan dengan guru tempatku melingkar. Aku hidup dalam lingkaran slice. Yang tak boleh semena-mena aku terhadapnya. Maka izinkanlah aku, wahai para slice -yang bersinggung denganku-.

Untungnya tidak sekarang, jadi masih ada waktu buat bersiap. Intinya, slice is "very something". Diriku ada, karena singgunganku dengan tiap slice. Slice telah membuat eksistensiku nyata. Karena itu, aku berterima-kasih pada tiap slice-ku. Dari mereka aku banyak belajar. Dari mereka aku bisa berbagi. Dari mereka aku semakin dewasa. Semakin dewasa dalam memutuskan pilihan. Pilihan adalah hidup itu sendiri. Dari slice-ku aku bisa bijak dalam menentukannya. Maka benarlah bila slice is very something!
~Alhamdulillah ya..? :)

Sehari setelah festival of sacrifice 1432-Hijriy
selepas waktu isya'..
masih di kota istimewa pro penetapan (katanya:)

*) playgroup adalah sebutanku untuk komunitas melingkar yang aku ada di dalamnya. komunitas pekanan, tempat belajar dan berbagi. penuh kehangatan, senyum merekah, dan ilmu-wawasan. cobalah kawan! ;)

10.1.11

Belajar dari Kang Abik (1)

Masjid Kampus UGM (06/01). Ini pengalaman saat menghadiri talkshow “Pencerahan & Budaya” yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Kampus UGM, Jama’ah Sholahuddin UGM, dan Forum Lingkar Pena (FLP) DIY. Acaranya sekaligus launching film terbaru kang Abik (sapaan Habiburrahman el-Shirazy), yang disandur dari novel beliau “Dalam Mihrab Cinta” (DMC). 
Talkshow-nya menghadirkan kang Abik (sebagai sutradara) berserta dua pemeran dalam film DMC, yaitu Asmirandah (Silvi) dan Boy Hamzah (Burhan). Meski talkshow-nya bertajuk “Pencerahan & Budaya”, namun sepanjang sesi memang lebih banyak memaparkan tentang film DMC. Pun begitu, tidak juga mengurangi esensi dari judulnya semula.
Kang Abik sendiri menjelaskan bahwa, film merupakan sarana propaganda yang cukup efektif. Sejak pertama kali ditemukan, orang-orang Yahudi sudah memanfaatkannya untuk menyebar propagandanya. Islam hanya “sedikit” terlambat menyadarinya. Alhamdulillah, kini mulai muncul banyak orang yang peduli dan menyadari potensi besar film sebagai propaganda pencerahan Islam.
Film DMC merupakan karya ketiga kang Abik yang diangkat ke layar lebar. Sebelumnya ada Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang waktu itu beliau hanya berperan sebagai penulis. Kemudian dilanjutkan dengan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 & 2. Di film KCB, kang Abik mulai terjun langsung dan terlibat dalam pembuatan film, termasuk ikut meng-casting para pemerannya. Sedangkan di DMC, kali ini beliau berperan langsung sebagai sutradara di bawah supervisi dari sutradara KCB, Chaerul Umam.
Perjalanan kang Abik di atas menggambarkan sebuah proses dalam pewacanaan budaya Islam lewat propaganda film. Dari yang awalnya kang Abik hanya sebagai penulis, hingga kini menyutradarai sendiri film dari novel beliau. Ini mengingat tidak sedikit kekecewaan dari para fans novel beliau terhadap film yang diangkat dari novel beliau. Terutama saat beliau hanya berperan sebagai penulis semata.
Kang Abik memberi inspirasi untuk jangan lelah belajar. Menamatkan kuliah dari jurusan hadits, Universitas al-Azhar, Mesir, tak menyurutkan semangat kang Abik untuk menekuni dan terjun di dunia sastra. Hingga saat ini, merambah ke dunia perfilman. Tentu terlihat kontradiktif antara latar-belakang dengan pekerjaan beliau saat ini. Tapi kang Abik mengatakan, “Semua ini saya lakukan untuk beribadah kepada Allah. Dan saya tidak takut menulis meskipun isi dari tulisan-tulisan saya bernuansa dakwah Islam”.
(soran ibrahim/bersambung)