6.6.14

Perselingkuhan Dunia Kerja



Ha! Judulnya kok kontroversial gitu ya? Tapi emang gitu kok. Pernyataan kalimat tiga kata itu terlontar dari ocehan sobat gue, Fai "sang trainer". Waktu itu kami lagi ngobrol gak jelas, sampe akhirnya ketemu sama topik: menuntut ilmu (sekolah/kuliah) dan dunia kerja (pascakuliah).

Beberapa waktu yang telah berlalu, aku sempet sekilas liat ada berita lulusan IPB (Institut Pertanian Bogor) yang memilih jadi petani. Keknya hebring gitu. Tapi, aku malah ngerasa aneh, bukankah memang harusnya gitu? Gini lho, dia kan lima tahun (kurang lebih) belajar A-Z tentang pertanian, jadi wajar donk kalo dia jadi petani. Apanya yang hebat?

Ini logikaku doank sih. Dia belajar tentang pertanian sampe kaffah, mumpuni. Menurutku itu pilihan (yang udah semestinya) jadi petani adalah hal yang wajar. Yang gak wajar adalah susah payah (lebih kurang) lima tahun belajar tentang pertanian, tapi malah kerja jadi bankir! Gak salah sih, tapi itulah yang disebut sobat gue: PERSELINGKUHAN dunia kerja. Kerja, tapi gak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dienyam.

Emang Harus Gitu?
Mmm... gimana ya? Memang banyak yang kuliah sama kerjanya gak nyambung. Misal kuliah kedokteran, malah jadi jurnalis. Kuliah Teknik Geologi malah jadi tukang bakso (lhoh). Gak salah, dan gak melanggar aturan agama. Tapi kalo gitu terus, menurut aku, Indonesia (tercinta) gak akan maju. Coba lihat pak Habibie, mantan Menristek di zaman Orde Baru. Dia belajar teknik fisika, ambil spesialis pesawat terbang, trus bikin industri (pabrik) pesawat -meski akhirnya kukut-, dan tetap setia dengan ilmunya sampe sekarang. Setauku.

Beliau orang hebat. Putra kebanggaan Indonesia. Hampir membawa Indonesia dari negara berkembang jadi negara maju. Tapi ternyata, memang belum saatnya. Dalam pikiranku, kalo ada orang lulusan pertanian (kayak yang alumni IPB tadi), memang sudah sewajarnya kerja jadi petani. Kenapa?

Suatu hari aku dateng ke sebuah seminar. Ada narasumber, pak Ayip (dari "Paradesa") cerita tentang perbedaan pertanian di Indonesia dengan di Korsel, Vietnam, Filipina. Bedanya, pada hasil produksi pertanian (padi) dalam skala 1 hektarnya. Di Korsel, Vietnam, Filipina, satu hektar bisa menghasilkan 3-4 kali lipat beras dibanding produksi sawah Indonesia (dalam satuan ton). Belum lagi, pola produksi dan tradisi cocok tanam yang beda jauh. Maksudnya tradisi di luar negara Indonesia, jauh lebih maju.

Itulah kenapa, menurutku petani-petani masa depan harusnya diisi oleh para sarjana pertanian. Biar mereka bisa langsung praktik ilmu-ilmu pertanian mereka selama di bangku kuliah. Biar setiap skripsi yang mereka susun gak sekedar jadi tool syarat kelulusan semata. Agar supaya ilmu yang telah mereka dalami beneran ada manfaatnya.

Karena itu, aku pribadi, risih sama perselingkuhan dunia kerja (PDK). Kalo semua orang mindset kuliah cuman biar bisa dapet ijazah S1, terus pada berebut "roti" CPNS, maka yang terjadi hanyalah seleksi alam. Yang berduit, yang beruntung, yang (emang dasarnya) pinter-lah yang bakal dapet. Padahal rasio lowongan dengan jumlah pelamar (CPNS) bisa sampe 1:1.000.000! (skala kasar).

Fenomenanya, banyak yang rela ilmunya selama kuliah gak kepake asal dapat "roti comfort zone" itu. Ironisnya, yang memilih untuk berentreprenuer lebih sedikit. Padahal entrepreneur, lebih bisa membuka peluang kerja/usaha yang lebih luas, ketimbang bergantung pada CPNS. Memang sih uncomfortable, tapi itu lebih memberi manfaat kepada sesama, gak sekedar manfaat egois.

Anyway, gak dosa juga kalo mau PDK. Toh itu sah-sah aja, kalo emang itu pilihan jalan hidup yang mau diambil. Asalkan jangan nyesel di akhir nanti. Ada satu buku berkisah tentang seorang perawat yang tugasnya menemani orang-orang yang udah divonis hidupnya (misal tinggal 2 bulan gitu). Di buku itu, dari cerita pengalaman perawat itu, penyesalan paling besar yang diungkap para pasiennya adalah: kenapa dia tidak mengikuti jalan pilihannya sendiri, dan lebih mengikuti apa omongan orang.

Nha, kalo aku (sekarang ini) lebih pusing mikirin gimana gak terjebak "arus" mainstream yang ngebosenin ini. Mungkin hidupku bakal lebih tough, gak semulus rekan sejawatku yang lain. Tapi itulah pilihan. Alloh SWT memberikan banyak pilihan dalam hidup ini. Jadi pilihlah jalan yang memang kau yakin tidak akan menyesalinya di akhir hayat nanti.

Aku (yakin 100%) suatu saat nanti pasti dijemput Izrail, masuk terminal akhir kehidupan fana ini. Berganti "kereta" di alam barzah. Yang tidak ingin kusesali adalah aku tidak berbuat sesuatu/membuat sebuah karya yang bisa memberi manfaat bagi generasi setelahku. Karena aku hidup untuk berkarya. Gitu aja sih.

*Tulisan ini selesai tanggal ke tujuh di bulan enam pada tahun 2KXIV
(image: http://www.ladiesliveandlearn.com/wp-content/uploads/2014/04/TAKE-YOUR-KIDS-TO-WORK-DAY-2.jpg)

28.8.13

One does not simply... Simplicity!

Simplicity.
Beberapa waktu silam, aku dan kawan-kawan di INDEX, berbagi tentang bagaimana itu desain. Sepanjang pengamatan, dan apa yang aku pelajari secara otodidak, aku menyimpulkan bahwa desain (grafis) yang keren itu adalah yang minim ornamen, latar (kosong) yang luas/cukup banyak, namun tertata dengan rapi dan artistik.

Bagi kebanyakan desainer (grafis) pemula, yang rata-rata belajar secara mandiri, mereka mendesain karyanya dengan tampilan yang full/penuh sesak. Tak ada ruang/latar kosong, karena mereka tidak membiarkan satu celahpun kosong tak berisi. Padahal kata Tong Sam Chong, "kosong adalah isi, isi adalah kosong." Hahaha, jadi inget serial Kera Sakti.

Aku dulu, ketika pertama kali belajar CorelDRAW dan mengenal dunia desain, juga menerapkan standar itu. Bahwa setiap celah itu harus terisi, sehingga satu art-space itu terisi semua, baik dengan warna maupun ornamen-ornamen tertentu. Kalau aku lihat ke belakang, karya-karya awalku, aku suka senyum-senyum sendiri.

Semakin lama, dan sering berinteraksi dengan dunia desain, hingga kenal dengan majalah desain grafis Concept, aku semakin menyadari bahwa ruang kosong itu perlu. Ada space putih yang melegakan dan tidak membuat mata lelah itu penting. Semenjak itu aku makin tergila-gila dengan warna putih, hingga mengeluarkan kode: white is the color. Putih itu warna, meski dalam percetakan tidak ada tinta putih.

Putih itu menurutku, merepresentasikan simplicity. Leonardo da Vinci bahkan berkata, "Simplicity is the ultimate sophistication." Simplicity itu terdengarnya mudah, namun saat mengaplikasikannya bukanlah perkara gampang. Ada suatu kerumitan di balik setiap hal yang terlihat sederhana.

Baru-baru ini aku melihat salah satu web bernama 9GAG yang habis melakukan redesain tampilan. Aku melihat, website itu semakin mengarah pada simplicity.


Bisa dilihat warna putih yang mendominasi di sana. Toolbar bagian atas, dengan background abu-abu muda (mendekati putih). Itu dalam hematku, sebuah simplicity. Simplicity itu juga memudahkan pengguna web tersebut. Jadi benarlah kata Leonardo da Vinci tadi, kesederhanaan adalah kecanggihan paling luar biasa.

Itu sekedar deskripsi sederhana tentang seperti apa simplicity, terutama dalam pandangan desainer (grafis). Simplicity sendiri tak terbatas pada bidang desain. Namun lebih dari itu, simplicity dapat teraplikasikan dalam semua ranah kehidupan kita. Bahkan sosok jenius Albert Einstein juga menegaskan, "Kalau kamu gak bisa njelaskan hal (rumit) kepada anak usia 6 tahun, berarti kamu belum memahami hal itu."

Salah seorang kawanku dulu juga pernah berujar, orang cerdas adalah mereka yang bisa menyampaikan hal rumit dengan cara yang sederhana. Kawanku itu dalam salah satu ujian minithesisnya diuji untuk menjelaskan penelitiannya kepada seorang dosen, yang dianggap sebagai bapak-bapak tukang sayur keliling. Kalau berhasil menjelaskan dengan sederhana, maka itulah sophistication dalam pemahaman kita.

Bicara tentang simplicity tak bisa lepas pula dari sosok fenomenal Steve Jobs. Pria ini telah menggaungkan tentang pentingnya nilai simplicity, terutama dalam produk-produknya di Apple. Dalam buku biografinya yang disusun oleh Walter Isaacson, Steve Jobs adalah perfeksionis yang sangat memperhatikan detail. Desain dan kesederhanaan sehingga memunculkan kemudahaan bagi pengguna adalah dasar yang ditekankan dalam tiap produknya.

Jonathan Ive, desainer Apple berkisah, satu saat Steve Jobs pernah mengajaknya ketemu. Dalam pertemuan itu, Steve Jobs mengeluarkan semua unek-unek perenungannya terkait produk baru Apple, yang sedianya akan segera dirilis. Namun, apa yang terjadi? Steve Jobs malah meminta Ive untuk merombak ulang, mendesain lagi dari awal produk tersebut. Wow!



Tapi begitulah Steve Jobs. Hasil perenungannya membuahkan karya dengan simplicity yang kuat. Produk-produk Apple yang terkena sentuhan Steve Jobs selalu tampil dengan tampilan sederhana namun elegan. Namun, bila kita bongkar di baliknya, akan terlihat kerumitan dalam proses desain hingga perakitannya. 

Bila dalam sebuah PC banyak kabel yang terurai tak beraturan, makan dalam komputer Apple tak ada kabel yang terurai berantakan. Semuanya rapi. Ini adalah hasil terapan filosofi ayahnya tentang sebuah furnitur. Adakala pembuat furnitur hanya mengecat/membaguskan tampilan luar yang kasat mata. Sementara yang tak terlihat dibiarkan begitu saja. Hal semacam itu tidak akan dibiarkan oleh Steve Jobs.

Aku nulis ini bukan promosi produknya Steve Jobs, tapi cuman memaparkan apa itu simplicity. Karena memang dalam karya-karyanyalah aku nemuin apa itu authentic simplicity. Steve Jobs telah menyimpangkan antara seni dan teknologi. Dan persimpangan itu membutuhkan simplicity.

Maka dalam hal berkarya, terutama desain grafis, aku semakin mantap bahwa simplicity is one the best choice. And it is true that one does not simply, make a simple art to becoming an awesome masterpiece. Indeed!

18.6.13

Buah Ngidam

Hari-hari akhir ini ada sesuatu yang bikin aku merasakan apa itu haru biru. Setelah terhitung 7 tahun berjalan, aku berada di dalamnya. Silih berganti orang lalu-lalang datang dan pergi. Akhirnya apa yang selama ini ku perjuangkan sampai pada satu titik yang dulu aku ngidam beud.

"Itu" akhirnya mampu memberikan buah yang sedari dulu ku impikan. Di "sana" akhirnya berkumpullah para insan kreatif. Dari "ini" aku semakin optimis melihat ke depan. Karena "yang dalam tanda petik" itu adalah Minimagz, yang kini telah menjelma menjadi Inspire Minimagz.

Setelah hampir 1 windu, dengan beragam karakter yang datang dan pergi, akhirnya IM telah menjadi satu komunitas para penggiat kreatif. Ada 4 lini di dalamnya; satu lini penulisan (tim redaksi), lini desain dan ilustrasi (tim kreatif), serta satu lini pemasaran (tim marketing).

Kesemuanya adalah lini kreatif. Kreatif dalam merangkai untaian kata, kreatif dalam menyusun ornamen artistik, kreatif dalam membuat goresan sketsa indah, dan kreatif dalam mengenalkan serta memikat hati para pembaca (konsumennya). Semuanya mengalir darah kreatif.

Inti dari IM adalah kreativitas. Satu hal yang membuatnya bisa bertahan, dan bisa terus berbagi inspirasi. Meski belum 100% tapi usaha memulai itu sudah ada. Dan kini di era teknologi dunia maya yang hingar-bingar, IM turut andil dalam meramaikan pencerahan kreatif.

IM mempunyai fanpage resmi di laman Facebook bernama Inspire Infection. Awalnya, fanpage itu sepi. Tapi beberapa bulan terakhir, Alhamdulillah sudah mulai ramai. Like-nya yang dulunya cuma 50-an, kini sudah 4x lipatnya. Semoga ini adalah tanda awal yang baik bagi IM.

Fanpage Inspire sudah diramaikan oleh tim ilustrator dengan Weekly Comichaos (WC). WC terbit setiap hari selasa. WC dikelola oleh tiga ilustrator IM, dan diisi secara bergantian tiap pekannya. Ketiga ilustrator (muda) IM adalah Wends, FaQ, dan Kazuha.



Setelah tim ilustrator, tim desainer IM juga tak mau kalah. Mereka akan hadir tiap sabtu dengan ARTward Moment (AM). AM adalah karya desain (baik tipografi, seni vektor, atau paduan keduanya) disertai dengan kutipan-kutipan inspiratif. Tim desainer IM adalah Nop2, Fikrsan, Wen_ning, dan Shin.



Menunggu giliran untuk tampil, teman-teman dari tim redaksi juga tengah bersiap dengan Red Note (RN). Insya Alloh direncanakan akan tampil tulisan-tulisan padat bermakna karya mereka tiap hari kamis. Tim redaksi IM diisi oleh Mattona, Nunna, iMad, Dita dan yang lainnya.

Terakhir dari tim marketing akan terus memantau perkembangan viral dari fanpage, juga sesekali akan menampilkan promo di fanpage Inspire. Tim marketing yang baru saja mendapat daun muda, digawangi oleh Celestial Angel, Fal, Ashfy, dan Arifah.

Lalu sebetulnya apa yang ku idamkan? Orang-orang dengan kapabilitas seperti di atas? Mungkin iya. IM punya fanpage? Bisa jadi. Tapi yang lebih mengena adalah kontribusi dari teman-teman. IM kini tak lagi berasa itu adalah diriku seorang. IM adalah tim. IM itu sebuah komunitas.

Yap, komunitas penggiat (pencerahan) kreatif itulah IM. Sebuah wadah, di mana orang-orang di dalamnya bisa mengekspresikan kreativitasnya sesuai dengan passion masing-masing. Secercah syukur pada Robb al-Alamin, yang mengizinkan buah ngidam ini tampak semakin nyata. Semoga Shiawase Selawase.

Waktu Ashar, bergegas ke Serambi Surga

13.11.11

The Jar-Sos (Jejaring Sosial) ~bagian satu~



Berasa aneh aja.
Saat ini kita hidup di era jejaring sosial. Hampir setiap orang punya akun di dunia maya. Entah itu di "mukabuku", di "cuitter", di "pluk", hingga yang terkini "gugelples".
Realita jejaring sosial. Memaksa kita untuk eksis, mendorong peningkatan penggunaan internet. Dulu orang-orang berjarsos (jejaring sosial--red) via warnet. Sekarang via HP saja, sudah bisa log-in mukabuku, cuitter, dll. Ditambah lagi, modem yang kini ngtrend bak kacang goreng.

Jarsos selayaknya digunakan sesuai fungsinya. Yaitu membangun relasi. Bukan sekedar untuk hura-hura. Mungkin ada yang menggunakannya just for fun. Tapi alangkah ruginya. Jarsos merupakan sarana untuk bertemu dengan orang lain yang baru saja dikenal saat itu juga. Jarsos memungkinkan untuk bertemu dengan teman lama, atau saudara jauh. Seolah memperpendek jarak komunikasi untuk menyambung tali rahim.

Lebih dari sekedar itu. Jarsos efektif untuk membangun network. Network di sini bukan network dalam bahasa komputasi. Tapi jaringan. Ya, jaringan dengan relasi-relasi yang dengannya kita bisa berbagi manfaat. Jaringan kerja, jaringan info beasiswa, jaringan teman di tempat yang jauh, dan sebagainya. Jarsos efektif untuk membangun jaringan itu. Karena itu dunia akan mengolok rugi bila jarsos digunakan just for fun.

Jauh ke depan, jarsos juga bisa jadi sarana untuk saling mencerahkan, saling menasihati, saling berbagi. Kalo kita sudah sampai pada fungsi yang ini, maka akhirat takkan mengolok rugi pada kita. Ya, jarsos sebagai investasi afterlife kita. Untuk memperoleh pahala dan ridhoNya. Maka rugi dunia-akhirat bila jarsos dipakai just for fun.

Karena banyaknya varian jarsos yang kini tersedia, alangkah bijak bila kita bisa memilih dan menggunakannya secara proporsional. Saya pribadi memiliki akun di "mukabuku". Tujuan saya adalah berkomunikasi dengan teman lama, maupun saudara yang berada jauh. Saya juga memakai "cuitter", sebagai sarana membangun relasi dengan orang-orang hebat di bidang yang saya tekuni.

Selain kedua jarsos itu, saya memilih membuat akun di DA (DeviantArt). Karena saya seorang seniman, dan saya rasa DA adalah jarsos yang tepat untuk mengembangkan, berbagi, dan belajar dalam mendalami bidang kesenian dan kreativitas. Di samping DA, saya juga bergabung di MT (Minitokyo). Jarsos khusus para peminat anime dan kultur Jepang, yang juga memfasilitasi para seniman wallpaper. Bedanya dengan DA, MT lebih spesifik pada anime. Di sana juga menyediakan resources yang dibutuhkan para waller*.
Baik DA maupun MT merupakan tempat saya belajar dan menjajal kemampuan saya di bidang seni. Karena pilihan saya adalah menjadi seniman, seniman beriman. Maka kedua jarsos itu pas untuk saya. Sedang "mukabuku" untuk komunikasi dengan rekan, teman, saudara yang jauh, sementara "cuitter" membantu saya mengutarakan gagasan-gagasan saya dalam 140 karakter. "Cuitter" menantang dengan keterbatasan karakter, dan jadi media saya belajar copywriting.

Maka memang indah bila jarsos diletakkan sesuai fungsinya. Itu juga alasan kenapa saya ogah ng-"Pluk". Karena tidak ada manfaatnya buat saya. Cukuplah beberapa akun itu saja, dan berusaha mengoptimalkannya. Untuk dunia, juga untuk akhirat. Salam seniman beriman!

Midnite after rainfall, dua hari pascahari berkurban 2011,
kampung kecil, sebuah kota berbudaya Jawa lekat.

*) waller adalah para pembuat wallpaper

7.11.11

Slice is Very Something


Slice adalah irisan.
Setiap pertemuan yang kemudian aku atau kamu terlibat lebih jauh, akan memunculkan slice. Bagiku, tidak setiap pertemuan menghasilkan slice. Hanya pertemuan yang berlanjut pada interaksi demi interaksi hingga terjadi proses perkenalan yang panjang. Baru muncullah slice. Karenanya sekedar tahu nama, atau tahu wajah semata takkan menghadirkan slice antara aku dengannya.

Slice adalah singgungan.
Aku punya banyak slice dalam hidupku. Setiap pertemuan, yang kemudian intim aku bersinggungan dengan tiap persona, maka di sana ada slice antara aku dan mereka. Aku punya slice dengan teman-temanku, teruntuk lebih yang dekat denganku. Setiap urusanku, pasti ada sangkutan dengan mereka pula. Aku punya slice dengan rekan-rekanku. Mereka yang satu medan juang denganku, tentu ada slice yang istimewa. Aku punya slice dengan para "playgroup"*-ku. Mereka yang membuatku paham akan ini semua. Bahwa inilah alasan Tuhan mencipta manusia dalam beragam suku, etnis, ras, kebudayaan, latar-belakang, bangsa.. semata adalah agar mereka (manusia) saling mengenal satu dengan yang lain.

Ya.. slice adalah saling mengenal.
Karena itu aku bilang, tak cukup kenal nama. Tak cukup tahu wajah saja. Slice hadir ketika aku kenal mereka lebih jauh. That's slice within life. Slice of relation. Aku suka menyebutnya demikian, slice. Seperti roti. Yang yummy ketika emang terbagi cukup untuk semua. Kegembiraan yang muncul, itulah yang membuatnya semakin enak. Begitulah slice.

Slice adalah saling kebermanfaatan.
Manusia terbaik itu adalah ia yang paling bermanfaat bagi yang lain. Ada satu judul anime, Hakuouki Shinsengumi Kitan, yang mengisahkan tentang seorang gadis bernama Chizuru Yukimura. Yang menarik dari karakter ini, dia adalah satu-satunya perempuan di markas kesatuan Shinsengumi. Satu yang aku tangkap dari karakterisasi Chizuru, ia seorang yang ingin bermanfaat bagi Shinsengumi, bagaimanapun kondisinya. Kisahnya benar-benar membuatku terngiang perkataan sang Rosul. Di tiap slice, ada peluang untuk tebar-bagi kemanfaatan. Karena itulah kita ber-slice dengan yang lain.

Semakin banyak slice, semakin membuatku harus membuat putusan dengan lebih bijak. Setidaknya belajar untuk bijaksana. Pernah sekali waktu, aku terpikir untuk pergi. Pergi meninggalkan kota tempat aku tumbuh besar ini. Aku kadang iri. Iri pada mereka, yang (seolah) leluasa pergi keluar kota dalam alasan apapun. Sedangkan aku? Aku terikat oleh masing-masing slice-ku. Seorang kawan berujar padaku, "Kau ini nampaknya tak pernah beri ruang untuk dirimu sendiri. Sekali-kali pikirkanlah tentang awak kau. Pergilah berlibur, barang satu atau dua pekan. Tinggalkan sejenak pikuk di kotamu itu".

Senyum simpul ku berikan padanya. "Tidak semudah itu", jawabku. Ya, karena realitanya tak semudah itu. Aku punya (banyak) slice. Aku perlu berpikir tentang para binaan "playgroup"-ku. Aku perlu memikirkan mereka yang membersamaiku di medan juang. Aku perlu.. Aku butuh.. Aku harus.. ya begitulah kawan. Tak seringan dalam lisan. Tak cukup landai untuk berlari dalam menunai. Karena itu perlu, butuh, dan harus dipikirkan dulu. Aku tak bisa serampangan. Aku tak boleh ceroboh. Aku harus bersiap.

Ketika memang takdir berkata lain. Bahwa kotaku ini harus kutinggal. Maka bersiap lebih awal harus dimulaikan. Aku harus berkomunikasi dengan mereka. Yang mengikatku dalam slice. Menyiapkan "playgroup"ku untuk kutinggal, bicara dengan santai namun santun pada para rekanku di medan juang, dan bicarakan dengan guru tempatku melingkar. Aku hidup dalam lingkaran slice. Yang tak boleh semena-mena aku terhadapnya. Maka izinkanlah aku, wahai para slice -yang bersinggung denganku-.

Untungnya tidak sekarang, jadi masih ada waktu buat bersiap. Intinya, slice is "very something". Diriku ada, karena singgunganku dengan tiap slice. Slice telah membuat eksistensiku nyata. Karena itu, aku berterima-kasih pada tiap slice-ku. Dari mereka aku banyak belajar. Dari mereka aku bisa berbagi. Dari mereka aku semakin dewasa. Semakin dewasa dalam memutuskan pilihan. Pilihan adalah hidup itu sendiri. Dari slice-ku aku bisa bijak dalam menentukannya. Maka benarlah bila slice is very something!
~Alhamdulillah ya..? :)

Sehari setelah festival of sacrifice 1432-Hijriy
selepas waktu isya'..
masih di kota istimewa pro penetapan (katanya:)

*) playgroup adalah sebutanku untuk komunitas melingkar yang aku ada di dalamnya. komunitas pekanan, tempat belajar dan berbagi. penuh kehangatan, senyum merekah, dan ilmu-wawasan. cobalah kawan! ;)

9.10.11

お久しぶり
















Ohisashiburi...
it's been a while.. ternyata aku lama ga blogging.. hahaha :D

Bukan mau apologi kalo terlalu sibuk di dunia nyata,
Bukan mau cari alasan kalo terlalu memikirkan dunia asli,
Bukan pula mau mangkir dari kemalasan menulis,
:P

Tapi, memang it's been a while...
Orang Jepang bilang, "Ohisashiburi desu ne..."
Emang, udah lama ga nulis.

Bukan bingung apa yang mau ditorehkan,
Bukan tak menahui apa yang hendak diutarakan,
Bukan pula mau memungkiri kenyataan tidak ada ide,
:P

Tapi, memang it's been a while...
Kalo saja dunia bercuit-cuit tiada ku sambangi,
Bilamana aku tiada bertemu dirinya,
Dan apatah jadinya jika tiada menemukan sambungan-
sambungan ke orang-orang hebat..

Bukan karena mereka juga,
Bukan sebab kerinduan pula,
Bukanlah diri ini berpura-pura,

Tapi, memang it's been a while...
lama aku tak menulis...
:)

Kota Berwalikota Hati,
Hari Sembilan, Bulan Sepuluh, Tahun Sebelas
^nih tanggal kok ciamik banget yak? 
*ada yang mau jadiin itu tanggal jadian sama aku?
(ngimpi loe!)

17.3.11

Invisible but Can be Felt


Coloring The New Love
Sederhana mungkin. Tapi begitulah sejatinya cinta. Cinta itu adalah kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu tidak dapat dideskripsikan dengan sebuah warna. Tapi itu bisa dirasakan.

Cinta yang baru. Bukan cinta yang sudah berwarna. Merah. Biru. Kuning. Hijau. Bukan itu. Tapi cinta yang baru adalah putih. Selayaknya kanvas. Sebagaimana kertas HVS. Maka kitalah yang akan membuatnya berwarna. Dan tak hanya satu. Dua. Atau sepuluh warna. Tapi warna yang tiada batas, yang akan kita lukis. Di sana. Di cinta yang baru.

Cinta yang baru. Awal sebuah cerita. Sebuah lembaran baru. Dalam potret kehidupan insani.

Nantilah dengan sabar, hingga DIA menyampaikan kita pada itu. Itu adalah cinta yang baru. Baru bersemi. Baru bertaut. Baru saja disatukan.

Bahagia merayakan cinta.. saat panen menuai.

28.2.11

Serial of Communication: The Root is Communication












Belum lama ini, aku mendengar berita miring tentang sikap tidak amanah seorang ikhwan. Atas berita itu, aku merasa kecewa kepada ikhwan tersebut. Aku menjadi tidak respek padanya. Aku terus ‘ngedumel’ dalam hati. Kok bisa ya, padahal jenggotnya panjang, istrinyapun memakai jilbab lebar. Aku terus berpikir, penampilan dan cara berpakaiannya menunjukkan sang ikhwan paham agama. Kok sampai?
Cukup lama aku tenggelam dalam pikiran buruk tentang ikhwan itu. Hingga akhirnya, Allah mempertemukan kami dan kami terlibat perbincangan cukup lama (tentu saja ikhwan tersebut didampingi istrinya). Dari perbincangan itu, rasa respekku yang memudar akibat berita miring itu, perlahan-lahan tumbuh lagi. Dan tak henti-hentinya aku beristighfar di dalam hati di sela-sela perbincangan kami.
Akupun bersyukur kepada Allah. Dengan skenarioNya, Allah melindungiku dari prasangka buruk yang berkelanjutan terhadap saudara seiman. Dan atas kehendakNya, Allah bersihkan ikhwan tersebut dari segala dugaan-dugaan yang tidak benar melalui ‘perbincangan’ kami. Karena dari perbincangan itulah, aku jadi lebih paham tentang dirinya, bahwa sesungguhnya orang-orang salah sangka terhadap ikhwan ini.
(
eramuslim.com)
***
Sederhana. Semua masalah dalam kehidupan ini, sejatinya hanyalah masalah komunikasi. Itulah kenapa komunikasi merupakan fitrah kebutuhan primer manusia. Manusia yang juga disebut makhluk sosial, takkan mampu bertahan dalam rimba kehidupan tanpa adanya komunikasi. Namun, karena sederhana itu, tidak sedikit yang menyepelekan masalah komunikasi ini. Coba kalau setiap orang sadar akan akar masalah ini, tentu semua bisa berjalan dengan lebih cantik dan mulus (bi'idznillah).
-
Bahkan dalam Qur'an, telah menyebutkannya. Setidaknya, saya telah menemukan dua ayat yang mengandung kata "tabayun", klarifikasi terhadap suatu masalah. Maka tidak aneh sebetulnya, bila kita mau memperbaiki komunikasi maka relasi kita dengan sesama akan menjadi lebih indah. Ibnul Qoyyim mengatakan dalam setiap gesekan antarindividu, ukhuwwah adalah pelumasnya. Tetapi, dalam ukhuwwah tetap dibutuhkan sebuah komunikasi yang positif dan sehat. Membicarakannya baik-baik. Itu sebuah solusi jadul (kalau boleh saya bilang) yang sudah kerap diulang-ulang. Akan tetapi, dalam realita ini sulit diwujudkan. Ego. Itulah yang masih menghalangi kita untuk menemukan kesepahaman melalui komunikasi.
-
Tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka ta'aruflah. Jargon baru era abad 21 itu bisa menjadi awalan memulai komunikasi yang positif dan sehat. Komunikasi bisa menumbuhkan kekuatan kultural yang baik, yang mampu memberi energi positif terhadap setiap aktivitas dan problema hidup kita. Tidak percaya? Coba saja (to be continued...)

10.1.11

Belajar dari Kang Abik (1)

Masjid Kampus UGM (06/01). Ini pengalaman saat menghadiri talkshow “Pencerahan & Budaya” yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Kampus UGM, Jama’ah Sholahuddin UGM, dan Forum Lingkar Pena (FLP) DIY. Acaranya sekaligus launching film terbaru kang Abik (sapaan Habiburrahman el-Shirazy), yang disandur dari novel beliau “Dalam Mihrab Cinta” (DMC). 
Talkshow-nya menghadirkan kang Abik (sebagai sutradara) berserta dua pemeran dalam film DMC, yaitu Asmirandah (Silvi) dan Boy Hamzah (Burhan). Meski talkshow-nya bertajuk “Pencerahan & Budaya”, namun sepanjang sesi memang lebih banyak memaparkan tentang film DMC. Pun begitu, tidak juga mengurangi esensi dari judulnya semula.
Kang Abik sendiri menjelaskan bahwa, film merupakan sarana propaganda yang cukup efektif. Sejak pertama kali ditemukan, orang-orang Yahudi sudah memanfaatkannya untuk menyebar propagandanya. Islam hanya “sedikit” terlambat menyadarinya. Alhamdulillah, kini mulai muncul banyak orang yang peduli dan menyadari potensi besar film sebagai propaganda pencerahan Islam.
Film DMC merupakan karya ketiga kang Abik yang diangkat ke layar lebar. Sebelumnya ada Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang waktu itu beliau hanya berperan sebagai penulis. Kemudian dilanjutkan dengan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 & 2. Di film KCB, kang Abik mulai terjun langsung dan terlibat dalam pembuatan film, termasuk ikut meng-casting para pemerannya. Sedangkan di DMC, kali ini beliau berperan langsung sebagai sutradara di bawah supervisi dari sutradara KCB, Chaerul Umam.
Perjalanan kang Abik di atas menggambarkan sebuah proses dalam pewacanaan budaya Islam lewat propaganda film. Dari yang awalnya kang Abik hanya sebagai penulis, hingga kini menyutradarai sendiri film dari novel beliau. Ini mengingat tidak sedikit kekecewaan dari para fans novel beliau terhadap film yang diangkat dari novel beliau. Terutama saat beliau hanya berperan sebagai penulis semata.
Kang Abik memberi inspirasi untuk jangan lelah belajar. Menamatkan kuliah dari jurusan hadits, Universitas al-Azhar, Mesir, tak menyurutkan semangat kang Abik untuk menekuni dan terjun di dunia sastra. Hingga saat ini, merambah ke dunia perfilman. Tentu terlihat kontradiktif antara latar-belakang dengan pekerjaan beliau saat ini. Tapi kang Abik mengatakan, “Semua ini saya lakukan untuk beribadah kepada Allah. Dan saya tidak takut menulis meskipun isi dari tulisan-tulisan saya bernuansa dakwah Islam”.
(soran ibrahim/bersambung)

4.1.11

PNS = Pelaku_Nya Saya!

Pernah kepikiran buat jadi PNS? Entah kenapa saat ini aku mulai memupuskan impianku tentang jadi PNS atau pegawai negeri saja :). Keluargaku memang beberapa jadi PNS, dan masuk kategori sukses, Alhamdulillah. Sesukses apapun mereka itu, itu juga bukan karena PNSnya. Lebih pada kegigihan dan kerja-keras yang telah dilakukan.
Aku pernah baca sebuah tulisan pendek, isinya secara singkat menyatakan bahwa ngebet jadi PNS hanya karena dengan begitu hidup jadi lebih aman, terjamin, dsb adalah musyrik! (Na'udzubillah). Yup, menyandarkan sesuatu pada selainNya sama saja telah menduakanNya. Dan biasanya kita (kita? elu aja kali gue ga :P) ga sadar telah melakukan itu. Itu udah keluar dari prinsip tawakal.
Aku lebih percaya bahwa rezeki tiap orang itu udah dijatah sama Dia. Ga usah pusing, karena aku tinggal ambil aja. Caranya? Ya berusaha donk, masa mau nunggu uang tiban!? (Ngimpi... wkwkwk). Dan hidup itu ga musti terjamin dengan jadi PNS. Aku sendiri lebih cocok untuk kerja yang menghasilkan karya. Aku ga suka kerja yang statis. Lebih suka yang dinamis. Kerja kantoran, jadi PNS gitu, beh... cape' deh. Rutinitas berulang 5 x 12 jam!
Tapi bukan berarti jadi PNS = harom. Seorang ustadz pernah berkata, jangan berniat jadi Pegawai Pemerintah, tapi bila ada kesempatan yang menghampiri, ambillah. So, maksudnya, kalo kesempatan itu yang mendatangiku, sikat aja! Gak ngebet banget, tapi kalo ditawari ya ayo! Ini bukan munafik, tapi lebih pada melihat kualitas diri. Masa kualitas ecek-ecek mau jadi pegawai pemerintah, apa kata dunia!? (woot)
Aku tumbuh sebagai orang yang lebih suka berkarya. Tau bedanya berkarya dan bekerja. Menurut Syauqi (mantan pinumku dulu), bekerja itu seperti binatang. Kadang hanya asal bergerak, tanpa diiringi berpikir. Disuruh A ya A, diminta B ya B. Sedangkan berkarya itu lebih menggunakan akal dan hati. Dan karena hasrat darah seni yang mengalir dalam nadiku (cie...), maka berkarya lebih tepat untukku. Menghasilkan mahakarya demi mahakarya. Itulah prinsip hidupku. Hidup itu berkarya. Berkarya yang terbaik untuk agama, bangsa, dan keluarga.

Bi'idznillah...

30.7.10

Hidup itu Penuh Pilihan Chui!

Ini adalah seupil kisah hidupku. Yang ntah berapa fragmen lagi. Yang akupun tak tahu akan berakhir di episode ke berapa. Tapi inilah hidupku. Sama seperti hidup kalian. Aku telah menjalani dua dekade dalam hidupku. Dan selama itu pula, aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana. Bahwa hidup itu penuh pilihan.
-
Aku akan bercerita tentang bakat/minat dalam gejolak diriku. Almarhum bapakku sebetulnya tau bahwa aku punya bakat unik. Sesuatu yang istimewa. Namun, beliau memiliki ketakutan akan bakatku ini. Adik beliau juga memiliki bakat yang sama. Aku terlahir dengan "darah seni" mengaliri pembuluh darahku. Ada denyut artistik dalam jantung kehidupanku.
-
Bapakku melarang aku menjadi seniman. Baginya seniman itu kotor, jarang mandi, bau lagi. Seniman itu hidupnya tidak beraturan, seenak wudelnya sendiri. Pokoknya segala hal negatif tentang seniman dialamatkan oleh (alm) Bapakku. Tapi beliau tetap bijak melihat potensiku ini. Dia mengarahkanku untuk mengejar impian di arsitektur. Seorang kerabat pernah mengatakan bahwa arsitek itu adalah gabungan dari seni dan sains. Sains, bagi (alm) bapakku adalah penyelamat diriku dari kutukan darah seni.
-
Tapi kemudian beliau sakit, hingga akhirnya wafat. Aku sedih. Bukan karena apa, tapi karena aku tidak mampu memenuhi harapan beliau agar aku menjadi seorang arsitek. Darah seni dalam diriku terus mengalir. Semakin lama, semakin menjadi. Denyut artistik, semakin menggebu. Hingga klimaksnya kutinggalkan kuliahku di jurusan teknik, dan beralih mendalami komunikasi. Aku masih takut untuk menyatakan diri masuk jurusan desain komunikasi visual.
-
Saat aku mengenyam sekolah menengah atas, bakat seni mulai tersalurkan ke arah yang jelas. Setelah sebelumnya berkabut. Sejak kecil aku sudah suka menggambar. Dari menggambar obyek rumah, sampai robotika menjadi favoritku ketika masih kanak-kanak. Di masa puber, aku beralih pada personifikasi manusia, lewat sentuhan gambar ala komik. Aku mulai menggambar teman-temanku sekelas. Hingga di tahun kedua aku SMA, seorang teman mengenalkanku pada dunia desain grafis.
-
Aku sempat terhenti dari aktivitas dengan pensil. Aku beralih mengutak-atik, mengedit gambar di layar komputer. Peranti lunak untuk desain yang pertama kukenal adalah CorelDRAW. Mungkin sangat biasa, klasik, dan ketinggalan. Desainer ternama kebanyakan bergelut dengan Adobe. Bahkan ketika pamanku (adik bapakku) mengetahui hobi baruku ini, beliau juga ikut-ikutan menyuruhku belajar Adobe.
-
Awalnya aku segan, tapi aku terlanjur suka dengan Corel. Lalu saat mendekati lulusan menuju alumni, saat itu adalah saat menegangkan bagi semua siswa tahun terakhir. Mereka akan memutuskan hendak meneruskan ke mana studi mereka berikutnya. Tak terkecuali aku. Temanku sempat mengajakku untuk mendaftar DKV ITB. Tapi Ibuku keberatan kalau aku harus kuliah di luar kota. Mau masuk institut seni lokal, aku takut (katanya ospekannya ngeri, dan ga kebayang teman-temanku nanti kaya' apa, hiiii).
-
Untuk menyenangkan hati ibuku satu-satunya, aku memilih jurusan teknik di salah satu universitas negeri di kotaku. Alhamdulillah aku diterima. Namun euforia kebanggaan itu hanya bertahan dua semester. Setelah itu aku memilih untuk mundur dari dunia eksak, dan banting stir ke dunia sosial. Komunikasi menjadi pilihan studiku berikutnya.
-
Meski belum seideal yang kuinginkan, untuk kuliah di DKV, setidaknya aku tetap belajar tentang desain grafis secara otodidak. Syukur pada Alloh yang banyak memberiku ilham, dan jalan untuk mempelajarinya. Darah seniku ini ternyata bukan kutukan. Tapi ini adalah anugerah dari Tuhanku yang satu. Setidaknya aku bisa memilih, menjadi seorang seniman yang positif. Jauh dari hal-hal negatif yang dikhawatirkan (alm) Bapakku. Menjadi seorang seniman yang Islamik, Orang Muslim yang artistik. Biar kata arsitek melayang, yang penting tetap artistik. Hidup itu penuh pilihan chui!

7.3.09

Wilkommen

Ehm,
Ehm,

ini adalah blog untuk inspirasi
buat yang suka berimajinasi
buat yang demen berfantasi
buat yang cinta ama estetika
silakan liat-liat blog ini...


soramimi cake
diambil dari sebuah judul salah satu lagu favoritku
tentang sebuah impian akan negeri fantasi
penuh imajinasi dan inspirasi